TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Karya Anak Muda Aceh Sabet Film Dokumenter Pendek Terbaik FFI 2021

Mengangkut cerita tentang syariat Islam di Aceh

-

Banda Aceh, IDN Times - Three Faces In The Land Of Sharia, film dokumenter yang diproduksi para pemuda di Aceh berhasil meraih anugerah Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2021.

Film besutan yang disutradarai, Davi Adullah; Masridho Rambey selaku Produser, dan Fadly Batubara sebagi Director Of Photografi, menjadi yang terbaik dalam kategori film dokumenter pendek.

Penetapan itu dilakukan pada malam puncak dari ajang penghargaan tertinggi bagi dunia perfilman di Indonesia tersebut, di Jakarta Convention Center, Jakarta, pada Rabu (10/11/2021).

Baca Juga: Jangan Lupakan Sejarah! Ini 12 Sosok Pahlawan Nasional dari Sumut

1. Three Faces In The Land Of Sharia menyingkirkan empat film dokumentar terbaik lainnya

Pixabay.com/Mediamodifier

Three Faces In The Land Of Sharia masuk dalam kategori film dokumenter terbaik pada Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2021. Selain film yang diproduksi oleh para pemuda asal Aceh ini, ada empat film pendek lainnya turut bersaing.

Di antaranya, Different Touch In Batik yang disutradarai Made Suniartika dan diproduseri oleh Lila Rosanti; dan Love Birth Life yang disutradarai Mahatma Putra dan diproduseri oleh Natasha May.

Selanjutnya, Noken Rahim Kedua yang disutradarai Adi Sumunar dan diproduseri oleh Yulika Anastasia Indrawati; terakhir Scene From The Unseen (Merupa) yang disutradarai sekaligus diproduseri Ary Aristo.

2. Butuh waktu tiga tahun untuk memproduksi Three Faces In The Land Of Sharia

-

Three Faces In The Land Of Sharia menceritakan tentang kondisi sosial masyarakat di Provinsi Aceh, daerah yang menerapkan syariat Islam. Film dokumenter ini lebih menekankan pada kritikan minoritas terhadap implementasi hukum syariat di daerah berjulukan Serambi Makkah tersebut.

Tidak hanya itu, Three Faces In The Land Of Sharia juga menyorot tentang pendapat minoritas terkait hukum cambuk dan hukum rajam bagi pelanggar Qanun Jinayah yang diterapkan di Provinsi Aceh.

Davi selaku sutra dara mengatakan, film yang mereka produksi membutuhkan waktu yang begitu panjang. Selain itu, dalam proses pembuatannya, ia mengaku penuh dengan tantangan.

"Tidak mudah untuk membuat film yang bagus. Butuh perjuangan yang besar, banyak energi dan waktu serta konsisten tim yang harus kuat,” kata Davi, pada Kamis (11/11/2021).

Hal itupun diakui oleh Fadly Batubara selaku Director Of Photografi. Ia mengatakan, penggarapan film tersebut tidaklah mudah. Mereka yang bergerak secara mandiri membutuhkan waktu sekitar tiga tahun lamanya.

"Lumaya lama buat film tersebut, dan membutuhkam biaya yang besar juga," ujar Fadly.

Meraih penghargaan dari ajang bergenggsi dalam dunia film Indonesia, para pembuat Three Faces in the Land of Sharia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut membantu sehingga memperoleh piara citra film dokumenter pendek terbaik tahun 2021.

Baca Juga: Mengenal Tuan MH Manullang, Calon Pahlawan Nasional dari Sumut

Berita Terkini Lainnya